Monday, February 27, 2017

Tips Ibu Saya : "budgeting"

Seperti yang saya ceritakan di post sebelumnya, saya sudah tidak tinggal bersama orang tua selama hampir sembilan tahun. Oleh karena itu, saya dituntut untuk belajar mandiri dalam banyak hal. Salah satunya adalah belajar bagaimana mengelola keuangan agar selalu stabil.

Ibu saya memberitahu saya sebuah tips yang sudah beliau terapkan  selama puluhan tahun sejak tinggal terpisah dengan orang tuanya. Trik ini pun saya rasa juga sudah banyak diketahui dan digunakan orang. Tapi saya benar-benar baru mengetahuinya dari Ibu saya. Berhubung Ibu saya bukanlah seorang financial planner dan bukan pula seorang yang ahli di bidang keuangan, jadi jangan heran kalau tipsnya sederhana saja.

sumber

Kata Ibu saya, salah satu cara menjaga kestabilan keuangan adalah dengan melakukan budgeting. Menetapkan pos anggaran ini dilakukan ketika baru saja mendapat pemasukan. Begitu dapat duit, segera sisihkan untuk pengeluaran yang sifatnya tetap. Misalnya untuk bayar kosan dan tagihan-tagihan rutin. Sisanya masih banyak bukan? Iya memang banyak, tapi untuk mebiayai kebutuhan yang juga besar yaitu operasional. Biaya operasional alias kebutuhan sehari-hari ini dianggarkan perminggu atau perhari. Biaya operasional ini meliputi anggaran makan dan transportasi. Kalau saya melakukannya perminggu. Kasarnya setiap awal pekan, saya akan menarik duit untuk biaya hidup seminggu ke depan.

Sesekali mau makan di tempar fancy, atau pengen jajan sesuatu yang sifarnya hanya untuk senang-senang, tetap bisa kok. Hiburan ini penting lho, karena diri sendiri pun butuh dibahagiakan. Kalau saya memang menganggarkan dana untuk hiburan ini dari awal, tidak banyak secukupnya saja. Tujuannya tentu saja biar terkontrol berapa banyak yang telah saya habiskan untuk hal yang sebenarnya tidak terlalu penting. Jangan sampai “belanja-belanja cantik” ini bikin saya tidak makan di akhir bulan.

Ketika saya menginginkan sesuatu yang melebihi budget, maka saya akan menabung. Bisa dengan mengumpulkan anggaran hiburan selama beberapa bulan. Bisa juga dengan mengumpulkan jatah mingguan yang tidak habis. Misalnya tiba-tiba ditraktir makan atau ditebengin ke tempat tujuan, lumayan kan hemat pengeluaran. Nah aggaran yang tidak jadi terpakai itu bisa banget dikumpulkan untuk membeli hal yang diinginkan tadi.  Selain tidak mengganggu anggaran lain, cara seperti ini ampuh mengendalikan sifat impulsif saya lho.

Tujuan dari budgeting tadi tentu saja untuk menjaga kestabilan taraf hidup. Jangan sampai foya-foya di awal bulan tetapi di tanggal tua kita kelaparan. Untuk menghindari makan mewah di awal tetapi akhir bulan bisanya cuma makan mie instan. Intinya, biar gak kenal yang namanya akhir bulan. Tentunya, taraf hidup yang stabil, stress pun berkurang. Setidaknya kita tidak lagi pusing karena gak punya duit.



Saturday, February 25, 2017

Rumah Saya

Lulus SMP saya melanjutkan pendidikan di sebuah sekolah berasrama di kota lain. Selepas SMA saya pun merantau lebih jauh lagi, kali ini beda pulau. Hingga saat ini, terhitung sudah sekitar sembilan tahun alamat domisili saya berbeda dengan orang tua dan adik saya.

Waktu SMA dulu, saya bertemu keluarga seminggu sekali. Dalam sebulan, saya mendapatkan kesempatan untuk pulang ke rumah sebanyak satu kali. Sejak kuliah di Bandung, tentu saja frekuensi pulang saya jauh berkurang. Saya biasa mudik enam bulan sekali, ketika lebaran dan libur akhir tahun. Enaknya, durasi libur ketika kuliah jauh lebih lama dibanding liburan anak sekolah. Saya menghabiskan waktu di rumah selama hampir tiga bulan untuk liburan semester genap yang bertepatan dengan Idul Fitri, serta sebulan pada liburan sementer ganjil yang bertepatan dengan akhir tahun.

Saya menggunakan waktu liburan untuk quality time bersama keluarga. Sebagai “tebusan” ketidakhadiran saya selama berbulan-bulan di rumah. Biasanya saya mengisi waktu luang dengan memasak dan membuat kue. Kadang-kadang kami juga pergi keluar sekedar untuk makan malam. Dulu, dalam seminggu di rumah, saya pasti meluangkan untuk bertemu teman lama. Sekarang tidak lagi, waktu liburan saya full di rumah. Kalaupun pergi pasti bersama keluarga.

Saya sangat menikmati momen-momen dua kali setahun tersebut. Salah satu hal favorit saya adalah “menguping” kedua adik saya yang saling curhat sebelum tidur. Biasalah remaja ababil yang gampang galau. Saya juga suka tidur bersama Ibu saya dan sangat menanti-nanti sesi pillow talk yang bisa berlangsung hingga dini hari. Saya juga sangat menikmati saat-saat menunggu Ibu, Bapak, dan adik-adik saya kembali dari aktivitas masing-masing.

Meskipun sembilan tahun sudah saya tidak tinggal bersama keluarga, zona nyaman saya tetap belum berubah. Rumah orangtua saya tetap menjadi pelabuhan utama saya. Cinta positif mereka lah yang menggerakkan ketika jenuh dan menopang di kala rapuh. Mereka tetap memiliki pengaruh besar dalam hidup saya.

Orang tua saya ketika ultah perak pernikahan mereka


Seiring waktu, sudah seharusnya kita semakin dewasa. Akan tiba giliran kita untuk membangun keluarga.Satu hal yang saya tanamkan pada diri sendiri, rumah saya tidak akan berganti melainkan bertambah. 

Thursday, February 23, 2017

Kaoskaki



Di postingan kali ini, saya ingin bercerita tentang Kaoskaki. Kalau Boboy adalah anggota keluarga saya, Kaoskaki ini “bersaudara” nya sama Juli. Nama Kaoskaki diambil dari motif tubuhnya yang abu-abu tetapi putih di bagian keempat kakinya, seperti sedang memakai kaos kaki. Btw, dia sekarang sudah ngeh lho, kalau dipanggil,”Kaoskaki”, dia noleh.




Saya lupa kapan pertama kali saya dan Juli kenalan sama Kaoskaki. Seingat saya, awal Juli pindah ke kosan yang sekarang, sudah ada dua kucing yang telah terlebih dahulu menghuni kosan tersebut. Seekor jantan belang hitam putih dan seekor kucing betina belang tiga. Ntah bagaimana, Kaoskaki datang kemudian dan “mengusir” si belang hitam putih itu. Sejak saat itu, kosan Juli menjadi “daerah kekuasaannya” Kaoskaki. Sedangkan si hitam putih terpaksa mencari “wilayah” baru. Kadang-kadang kami masih bertemu si hitam putih di daerah sekitar kosan.

Saya pun tidak ingat bagaimana awalnya Juli dan Kaoskaki bersahabat. Oh ya, Kaoskaki ini stray dan tergolong galak sesama kucing. Hampir selalu ada luka hasil perkelahian di tubuhnya. Dulu Juli sering membelikan ikan goreng di warteg untuk Kaoskaki. Kadang-kadang juga fried chicken ala-ala. Ya mungkin karena ini lah Kaoskaki bisa takluk sama Juli. Sejak saat itu, Kaoskaki hampir selalu ada setiap pagi saat Juli akan berangkat kerja dan malam ketika Juli pulang kerja. Karena sudah “akrab” kami pun membelikan dry food untuk Kaoskaki. Makin rutin lah dia berkunjung ke kamar Juli.



Hal yang menarik dari kaos kaki, meskipun dia gahar, tetapi raut wajahnya memelas. Kata Juli, setiap kali dia ada di depan kamar lalu Juli menutup pintu, maka dia akan duduk dan menatap pintu dengan tatapan mengiba. Entah benar-benar sedang memelas atau memang “default” matanya yang begitu. Selain itu, ntah kenapa Kaoskaki ini lebih nurut sama saya daripada sama Juli. Padahal Juli yang memberinya makan setiap hari. Kalau kata Ibu saya, “Kaoskkai kan jantan, jadi dia nurutnya sama perempuan.” Bentuk kaki belakangnya yang (maaf) agak ngangkang membuat gaya berjalannya Kaoskaki jadi agak “lain.” Hanya dengan melihat gerak geriknya, dari jauh pun saya bisa tau kalau itu Kaoskaki.

Entah karena gendut atau apa, Kaoskaki ini kurang lincah. Mungkin ini lah penyebab luka-luka di tubuhnya itu, susah menghindari  serangan lawan. Kalau misalnya bertemu di jalan, lalu kami mengajaknya pulang. Maka dia akan mengekor dengan berjalan santai sambil mampir-mampir untuk mengendus apapun yang dilihatnya di jalan. Bahkan kadang diselingi dengan garuk-garuk atau peregangan terlebih dahulu. Kaoskaki memang sok jual mahal.


Karena beberapa hal Juli memutuskan untuk pindah ke kamar sebelah yang belum lama kosong. Kata Juli, selesai dia bersih-bersih kamar barunya, Kaoskaki masuk dan tidur di pojok kamar tersebut. Keeseokan malamnya, ketika Juli sedang memindahkan barang-barang, Kaoskaki hanya duduk di depan kamar mengamati dengan tatapan sedih. Hingga dua minggu setelahnya, setiap Juli akan berangkat kerja Kaoskaki selalu berusaha menghalangi. Biasanya dengan berguling-guling di depan kaki Juli. Mungkin dia mulai takut ditinggal.




Suatu hari saya ke kosan Juli untuk mengawasi teknisi yang memasang AC. Saya duduk di lesehan di depan kamar Juli. Tiba-tiba Kaoskaki datang dan menggosokkan tubuhnya ke kaki saya. Saya langsung terenyuh dan teringat Boboy. Saya pun membalas dengan mengelus-elus punggungnya. Saya kaget dengan tingkah Kaoskaki selanjutnya. Dia tidur terlentang di sebelah saya dengan kaki menyandar ke kaki saya. Berbeda dengan biasanya, kali itu saya melihat wajah Kaoskaki begitu bahagia. Mungkin seumur hidupnya baru kali ini dia merasa disayangi. Tidak lupa saya mengabadikan momen langka tersebut dan menunjukkan kepada Juli yang sedang keluar.



Kucing liar dan galak sekalipun kalau disayangi dia pun bisa bertingkah laku manis dan menunjukkan sayangnya kembali kepada kita J

Wednesday, February 22, 2017

Self reminder : Ingatlah cita-citamu

Catatan pendek ini adalah self reminder. Bahwa solusi pertama dari "lelah" yang kita rasakan ada pada diri sendiri. Jika kita jeli, inspirasi pun ada pada hal-hal sederhana.

sumber

Dulu saya takjub sekaligus heran mengapa banyak sekali teman-teman saya yang menghiasi dinding kamar atau meja kerjanya dengan tempelan kertas warna-warna. Bukan sembarang kertas, post it beraneka warna itu memuat tulisan-tulisan kecil. Kebanyakan mengenai target-target mereka. Baik jangka pendek atau pun yang masih agak lama. Ada yang langsung menempelkannya pada dinding. Beberapa mengumpulkannya dalam sebuah whiteboard.

Belakangan, bertahun-tahun kemudian saya baru paham. Menuliskan dan menempelkannya di tempat yang selalu kelihatan. Sadar atau tidak, setiap melihatnya otomatis kita akan membacanya. Setidaknya, pikiran akan mengulangi kalimat-kalimat itu sekali lagi. Berulang kali setiap warna-warni kertasnya tertangkap oleh mata.

Salah satu quotes populer berkata, “ setiap kamu merasa lelah, ingatlah tujuanmu berada di sini.” Kini saya menemukan benang merahnya. Tempelan-tempelan dinding tadi adalah salah satu cara mudah untuk membuat kita selalu ingat. Mengingatkan kita akan target-target yang ingin dicapai. Mengingatkan kita akan “tujuan berada di sini.” Saya jadi ingat. Dulu saya pernah membuat tempelan di dinding. Isinya bukan target ataupun quotes motivasi. Melainkan kumpulan rumus fisika dan matematika. Tujuannya tentu saja agar setiap saya melihatnya, saya akan mengulangi rumus-rumus itu sekali lagi. Berulang-ulang hingga saya hapal, bahkan sampai sekarang.

Saya menjadi terinspirasi. Mengapa saya tidak menerapkannya kembali. Menuliskan target-target saya dalam lembar post it. Lalu menempelkan ke tempat dimana mata saya biasa tertuju. Pengulangan itu akan menjadi sugesti positif untuk diri sendiri. Agar setiap melihatnya, saya akan mengulanginya sekali lagi. Agar setiap saya jenuh, ada yang “menyadarkan” saya. Bahwa apa yang terjadi hari ini akan mempengaruhi seperti apa saya esok lusa dan seterusnya. Setiap saya kehilangan fokus, ada yang “menarik” saya kembali ke “jalan yang benar”. Bahwa saya sedang meniti langkah menuju cita-cita saya. Bahwa saya sedang menyusun bata untuk “rumah masa depan saya.” Agar di suatu hari kerja yang melelahkan, hal pertama yang saya “temui” begitu masuk kamar adalah “mimpi-mimpi” saya. Agar setiap saya membacanya kembali, dapat menjadi doa yang baik J

Thursday, February 16, 2017

How I move around Jakarta everyday

Aktivitas sehari-hari mengharuskan saya “berkeliling” Jakarta setiap harinya. Dari tempat tinggal di Jakarta Timur, saya bisa berkegiatan di Jakarta Barat, lanjut ke daerah selatan dan di akhiri di Jakarta Pusat. Kegiatan seperti itu tidak berlangsung seharian, melainkan hanya enam hingga tujuh jam saja perharinya. Sudah termasuk waktu tempuh untuk mencapai lokasi dengan kendaraan umum. Tentu saya nggak mau dong waktu yang sudah sedikit itu malah dihabiskan dengan lama di jalan. Jadi saya punya “moda transportasi favorit” untuk bepergian.

Angkutan umum paling saya suka itu sebenarnya kereta atau commuter line. Alasan pertama tentu saja bebas macet jadi mempersingkat waktu tempuh. Selain itu harga tiketnya yang terjangkau dan relatif on time. Walaupun kalau malam kereta ini sering lama karena tertahan di berbagai tempat. Biasanya karena menunggu untuk didahului oleh kereta jarak jauh. Seperti kita ketahui, sore hingga menjelang tengah malam adalah waktu dimana banyak sekali kereta jarak jauh yang berangkat. Apalagi commuter line arah Bekasi, bisa tertahan cukup lama karena menunggu didahului berkali-kali. Karena memang searah dengan kereta jarak jauh yang keluar masuk Jakarta. Meski begitu saya tetap mejadikan commuter line sebagai favorit. Tertahan 30 menit di stasiun Cipinang rasanya masih lebih mending dibandingkan dengan macetnya Jalan I Gusti Ngurah Rai di waktu yang sama. Sayangnya rutinitas saya sehari hari kebanyakan jauh dari stasiun. Sehingga naik commuter line tidak efisien untuk saya. Tapi tetap, prinsip saya jika masih bisa naik kereta saya akan naik kereta.

bukti bahwa saya sering menggunakan commuter line

 Selain kereta, moda transportasi yang saya suka adalah Transjakarta. Alasan yang utama adalah aman dan pengemudinya tertib. Jujur saya paling ngeri kalau ada pengemudi angkutan umum yang ugal-ugalan apalagi sampai menerobos perlintasan kereta padahal palang pintu sudah ditutup. Tarifnya juga terjangkau, 3500 rupiah jauh dekat sama saja. Di setiap bis terdapat nama trayek yang dilayaninya, misalnya TU Gas- Grogol. Ini sangat membantu karena tidak perlu menghapal nomer. Sayangnya Transjakarta ini tidak selalu bebas macet. Baik untuk rute baru yang memang tidak melalui jalur khusus maupun koridor-koridor lama. Penyebabnya bisa dari banyaknya kendaraan lain yang memasuki jalur Transjakarta sehingga jalur yang harusnya khusus itupun jadi ikutan macet.


ini gak boleh ketinggalan kalau mau naik Transjakarta. 

Saya paling merasa antara nyesek bercampur geram kalau yang masuk jalur itu adalah mobil ambulans sementara di jalur biasa tidak sedang macet. Bagaimana tidak, masuk jalur khusus justru akan memperlama perjalanan ambulans tersebut. Seperti yang kita tau, jalur Transjakarta itu ngepas selebar bisnya sendiri. Ya jelas saja bisnya tidak akan bisa “disuruh minggir” dulu walaupun yang mau lewat adalah ambulans. Selain itu bis Transjakarta banyak berhenti untuk naik turun penumpang di setiap halte. Hal ini menyebabkan ambulans tadi terpaksa ikut berhenti juga.

Alternatif lain yang saya juga suka tentunya ojek online. Pemesanannya praktis dan dapat menjangkau setiap sudut. Tidak seperti commuter line atau Transjakarta yang punya tempat khusus untuk naik turun penumpang. Gampangnya ojek online ini dapat mengantarkan saya dari pintu ke pintu. Kenapa yang online? Karena saya tidak bisa tawar menawar. Ojek online memiliki skema tarif yang jelas. Selain itu, naik motor kan memang salah satu cara ampuh menembus kemacetan. Bisa nyelip-nyelip atau lewat jalan tikus. Kelemahannya adalah saya tidak kuat naik motor terlalu lama, pinggang ke bawah rasanya kaku semua. Selain itu namanya juga motor, susah kalau hari sedang hujan.

"koleksi" aplikasi ojek online di ponsel saya


Jadi sehari-hari saya kesana kemari dengan mengkombinasikan moda-moda yang tadi saya sebutkan. Untuk jarak yang relatif jauh  biasanya saya akan naik Transjakarta atau commuter line terlebih dahulu. Kemudian dilanjutkan dengan ojek on line. Untuk jarak yang tidak terlalu jauh saya memilih ojek on line. Tapi kalau sedang diburu waktu, jauh dekat saya hajar saja pakai ojek on line.

Tuesday, February 14, 2017

[review] Warung Spesial Sambal "SS"

Kalau ditanya apakah saya suka pedas. Jawabannya tentu saja Ya! Tapi ada kriterianya. Saya cenderung suka pedasnya cabe merah ketimbang pedasnya cabe hijau atau rawit. Selain itu, saya lebih memilih menambahkan sambel belakangan daripada masakan yang bumbunya memang dibuat pedas. Alhasil saya memilih tempat makan pun berdasarkan cita rasa pedas yang ditawarkan.

Salah satu tempat yang saya tuju kalau lagi pengen makan pedas adalah “Spesial Sambal” atau yang lebih dikenal dengan “SS”. Pertama kali kenal SS ini ketika saya liburan ke Jogja pada 2012 yang lalu. Ketika itu saya menginap di rumah teman kuliah saya di daerah Condong Catur. Malamnya teman saya mengajak saya makan di SS yang terletak di ring road sekalian janjian dengan teman lain. Saya langsung suka sejak pertama kali makan di sana.

Dari sekian banyak menu yang ditawarkan, pesanan saya apabila makan di SS cenderung itu-itu saja. Untuk lauk biasanya saya memilih antara ayam goring dada, jambal asin atau telur dadar. Sayurnya biasanya cah kangkung, cah toge atau pecel. Ada satu menu yang tidak pernah ketinggalan yaitu sambel tahu. Setiap makan di SS saya selalu memilih sambel tahu. Sejak pertama kali makan di SS di tahun 2012 hingga sekarang nyaris lima tahun kemudian. Karena saya tidak pernah makan di SS sendiri, maka pesanan sambal pasti tidak cuma satu jadi bisa saling sharing. Saya juga suka icip-icip sambel lain seperti sambel kecap, tomat segar, manga muda dll. Tapi di lidah saya, belum ada yang seenak sambel tahu. Maka jika saya yang memesan, saya selalu memilih sambel tahu.


Sambel tahu favorit saya

Untuk sambel tahu sendiri, saya tentu sudah pernah mencoba di tempat lain. Tapi sejauh ini saya belum menemukan yang seenak sambel tahunya SS.

Karena ketagihan sejak pertama kali makan di sana, maka setiap ada yang mengajak saya makan,  saya akan menawarkan untuk makan di SS saja. Bahkan saya tidak keberatan makan di SS setiap hari. Teman-teman saya di Jogja sampai hapal. Alhasil sepertinya saya sudah pernah makan di hampir seluruh cabang SS di seluruh penjuru Jogja. Mulai dari dua cabang yang berdekatan di ring road utara, hingga cabang SS yang ada di Jogja City Mall. Tapi cabang yang paling sering saya datangi adalah yang di Monjali. Pertimbangannya adalah jarak yang relatif dekat dan rasa yang termasuk salah satu yang paling enak. Ya, dari mencoba makan di berbagai cabang, saya jadi menyimpulkan di setiap cabang rasanya tidak persis sama.

salah satu cabang ss (sumber)

Suatu ketika saya ke Semarang, teman saya bilang di sini ada juga kok. Saya pun sempat makan di dua cabang SS di Semarang. Salah satunya adalah cabang yang di Tembalang. Berbeda dengan di Semarang yang memang diberi tahu oleh teman saya, makan di SS Cirebon benar-benar di luar dugaan. Saya dan teman saya “menemukan” cabangnya secara tidak sengaja. Saya paling senang tentu saja ketika teman saya yang tinggal di Jatinangor mengajak saya makan di SS. Selain karena saya memang sangat suka, saya bahagia mengetahui di Jatinangor ada SS. Jadi  bisa makan di SS tidak hanya ketika di Jogja atau Semarang saja. Alhasil saya dan Juli pernah sengaja ke Jatinangor hanya untuk makan di SS.

Saya sudah lama tau kalau di Depok ada cabang SS juga. Jadi setelah pindah ke Jakarta, saya mengajak Juli untuk ke Depok. Waktu itu Juli juga pengen melihat-lihat kampus UI, belum pernah katanya. Ya  sudah sekalian saja. Sejak saat itu setiap ke Depok saya selalu menyempatkan makan di SS.

Suatu siang secara tidak sengaja saya melewati sebuah cabang SS di Tanjung Duren. Karena waktu itu saya naik ojek, jadi saya tidak ingat jalannya. Saya dan Juli pun googling karena ingin ke sana hari Minggunya. Pertama kali saya sampai di SS Tanjung Duren, saya sudah merasa ini bukan cabang SS yang saya lewati ketika itu. Setelah baca-baca buku menu saya baru tau, ternyata cabang SS di Tanjung Duren ada dua.

Menu yang biasa kami pesan

Untuk harga sendiri, menurut saya tergolong standar. Sambal di banderol mulai dari Rp 1500 hingga Rp 5000. Lauk paling mahal sepertinya adalah iga seharga Rp 20.000. Harga ini berbeda untuk setiap kota. Paling murah adalah harga di Jogja. Sekali makan saya hanya membayar sekitar 50 ribuan untuk berdua  kalau di Jogja. Di Jakarta sekali makan di SS kami menghabiskan sekitar 70 ribuan berdua. Di Jogja, kita diperbolehkan nambah nasi sepuasnya tanpa biaya tambahan. Sedangkan di kota lain nasi dihitung perpiring.

Karena ketagihan, hampir setiap minggu saya dan Juli makan di SS Tanjung Duren. Meskipun untuk mengantri hingga pesanan datang menghabiskan hampir satu jam sendiri.

Gak apa-apalah sekali-sekali J



Friday, February 10, 2017

Melindungi Diri dan Menghargai Karya Orang Lain

Saya bukanlah seseorang yang begitu terkenal yang kata-katanya sampai dijadikan rujukan oleh orang lain. Tapi tentu saja saya saya pernah bahkan sering menulis dengan merujuk pendapat orang lain. Satu hal yang saya tanamkan pada diri sendiri untuk tidak menjiplak hasil karya orang lain. Salah satu cara yaitu dengan menuliskan sumber ketika mengutip sesuatu. 

sumber

Dengan menuliskan dari mana pikiran itu diperoleh secara tidak langsung kita sudah menghargai si empunya ide. Walaupun mungkin kita tidak tau siapa yang pertama kali mencetuskan kata-kata tersebut, tetapi setidaknya kita sudah melindungi diri dari pikiran negatif orang lain. Mungkin kita sama sekali tidak bermaksud mengklaim pikiran itu sebagai ide kita. Tetapi bukankah ada banyak sekali persepsi di dunia ini. Jika yang membaca adalah penulis aslinya. Boleh jadi dia akan berpikir kita mencontek karyanya. Sebagai pemilik karya tersebut, dia berhak menuntut kita. Hak tersebut pun dilindungi undang-undang Hak Cipta dan Hak Kekayaan Intelektual. Jika yang membaca adalah orang yang sebelumnya telah mengetahui ide tersebut dari sumber aslinya. Tidak menutup kemungkinan kita akan dicap sebagai plagiat yang sedikit banyak akan mempengaruhi image sebagai penulis. Sama halnya ketika kutipan tanpa sumber tersebut dikutip kembali dikutip orang lain. Celakanya pengutip berikutnya menganggap itu adalah buah pikiran kita dan ini mencantumkan sebagai sumbernya. Kalau begini ceritanya kita bisa dianggap mencuri karya orang lain.


sumber


Setiap penulis bertanggung jawab dengan karya yang dihasilkannya. Apabila ternyata saduran tadi salah atau melanggar norma tertentu, dengan mencantumkan sumber kita akan melindungi diri dari ikut disalahkan. Bayangkan saja jika kita tidak mencantumkan siapa pemilik sesungguhnya ide tersebut, bisa saja kita yang dituntut dan terpaksa menanggung sanksi atas pelanggaran tersebut.
Tulisan-tulisan formal bisa mengutip dengan merujuk kepada cara-cara penulisan yang tercantum di EYD. Lalu bagaimana dengan tulisan-tulisan ‘santai’? Bisa dengan menuliskan misalnya, seperti kata pepatah, atau ada peribahasa yang mengatakan dst. Paling tidak kita bisa menuliskan “Anonymous,” artinya kita mengakui bahwa itu adalah pikiran orang lain, walaupun tidak tahu siapa orangnya.

Menuliskan sumber sejatinya bertujuan untuk melindungi diri sendiri. Agar ketika kutipan tersebut benar kita tidak mengambil hak orang lain. Apabila kutipan tersebut salah kitapun tidak menanggung kewajiban orang lain.